Kesehatan jaringan penyangga gigi pada usia lanjut sering kali diabaikan dan dinomorduakan oleh sebagian besar masyarakat Indonesia. Persatuan Dokter Gigi Indonesia (PDGI) kini memfokuskan program edukasi masyarakat untuk mendorong Periksa Kesehatan Gusi Lansia secara berkala di berbagai daerah. Penurunan kondisi fisik dan penyakit sistemik pada lansia kerap memicu peradangan gusi yang parah jika tidak mendapatkan penanganan medis yang tepat. Melalui kerja sama aktif dengan pengurus daerah seperti PDGI Bandung, gerakan sosialisasi ini dilakukan secara terpadu melalui posyandu lansia dan komunitas pensiun guna menjangkau kelompok umur rentan ini.
Rendahnya pemahaman masyarakat mengenai dampak kerusakan gusi menjadi faktor utama penggerak program prioritas ini. Banyak lansia menganggap bahwa kondisi gusi berdarah atau gigi goyah merupakan proses penuaan yang alami dan tidak perlu dikonsultasikan ke dokter. Kurangnya kesadaran kesehatan gigi lansia ini berisiko memperburuk penyakit kronis lain, seperti diabetes mellitus dan gangguan jantung. Jika dibandingkan dengan perawat kesehatan umum, keterlibatan aktif dokter gigi dalam melakukan skrining awal di tingkat masyarakat masih perlu ditingkatkan agar kesehatan mulut lansia tetap terjaga hingga usia senja.
Pemerintah melalui Kementerian Kesehatan dan Peraturan Menteri Kesehatan Nomor 67 Tahun 2015 tentang Penyelenggaraan Pelayanan Kesehatan Lansia telah menetapkan standar pelayanan bagi kelompok usila. Kebijakan ini menegaskan bahwa pemeriksaan kesehatan mulut dan gusi merupakan bagian dari paket pemeriksaan kesehatan berkala bagi lansia. Adanya program Periksa Kesehatan Gusi Lansia ini menjadi wujud nyata pelaksanaan regulasi tersebut untuk mencegah penyakit periodontitis yang kerap dialami oleh warga lanjut usia di Indonesia. Dengan dukungan posyandu lokal, layanan skrining gusi gratis kini makin mudah diakses.
Dukungan terhadap program edukasi ini mengalir deras dari para kader kesehatan, organisasi kemasyarakatan, serta keluarga pendamping lansia. Banyak pihak menyadari bahwa gusi yang sehat sangat mempengaruhi asupan nutrisi lansia karena menentukan kemampuan mengunyah makanan harian secara sempurna. Peran aktif dari pengurus cabang seperti PDGI Bengkulu dalam menyelenggarakan pemeriksaan lapangan terbukti meningkatkan partisipasi masyarakat usia lanjut. Pendampingan berkelanjutan dari para tenaga medis di lapangan memberikan rasa aman dan kenyamanan bagi lansia saat menjalani prosedur perawatan gigi.
Implementasi program di tingkat daerah dilakukan melalui integrasi kegiatan pemeriksaan rutin dengan program posyandu lansia di kelurahan. Setiap pertemuan diisi dengan kegiatan penyuluhan cara menyikat gigi yang benar bagi pengguna gigi tiruan serta pemeriksaan jaringan lunak mulut secara detail. Hasil evaluasi berkala menunjukkan adanya peningkatan kesadaran kesehatan gigi lansia yang ditandai dengan meningkatnya angka kunjungan mandiri ke puskesmas. Langkah nyata ini menjadi bukti keberhasilan pendekatan berbasis komunitas dalam mewujudkan lansia sehat dan mandiri.
Secara keseluruhan, inisiatif berkelanjutan untuk mendorong Periksa Kesehatan Gusi Lansia merupakan investasi penting dalam meningkatkan kualitas hidup masyarakat usia lanjut. Sinergi antara organisasi profesi, pemerintah daerah, dan masyarakat harus terus diperkuat secara konsisten. Publikasi edukatif serta pembinaan rutin dari jaringan organisasi seperti PDGI Jambi diharapkan dapat memperluas jangkauan layanan kesehatan gusi hingga ke pelosok daerah, sehingga setiap warga lanjut usia dapat menikmati masa tua yang sehat dan bermakna.
